Keberadaan situs jejaring sosial beberapa tahun belakangan ini telah banyak merubah hidup kita. Merubah cara kita bekerja, cara kita bersosialisasi, cara kita berkomunikasi, cara kita mendapatkan informasi atau mencari informasi atau bahkan cara kita membeli barang.
Keberadaan situs jejaring sosial ini juga di dukung oleh teknologi komunikasi bergerak yang semakin maju dan dengan harga yang semakin terjangkau membuat jaringan sosial media tumbuh amat sangat pesat di hampir di seluruh penjuru dunia.
Situs jejaring sosial yang pada mulanya untuk bersosialisasi mengalami evolusi menjadi sosial media, tempat di mana, pengguna meng-ekspresi-kan dirinya, mengungkapkan opininya, membagi pengetahuannya, membagi pengalamannya dan dapat dengan seketika mendapat tanggapan/ komentar dari teman-teman atau pengikutnya.
Pengguna aktif sosial media dapat mempengaruhi opini, menciptakan trend, meningkatkan/ membangkrutkan penjualan suatu produk/ brand… bahkan dapat meruntuhkan suatu rezim pemerintahan seperti yang telah terjadi di beberapa negeri di timur tengah 2 tahun belakangan ini.
Dalam perspektif individu, jejaring sosial media telah terbukti banyak memberikan dampak yang sangat positif dalam membantu individu melakukan pekerjaan sehari-harinya, baik sekedar melakukan janji minum kopi dengan kawan-kawan lama, melakukan riset/ rekomendasi atas suatu produk yang baru saja di luncurkan di pasaran. atau sampai dengan hal yang serius seperti mencari suatu pekerjaan. Sering kali juga terjadi, suatu pertukaran informasi/pengetahuan yang tidak di sengaja (knowledge accident) di dalam jejaring sosial.
Pertanyaan selanjutnya adalah: Bagaimana bila jejaring sosial di terapkan di dalam lingkungan bisnis? Apa yang akan terjadi bila suatu organisasi/ perusahaan mempunyai platorm aplikasi sosial yang dapat membantu para internal/external pegawai nya melakukan komunikasi, berbagi cerita/ pengalaman seperti hal yang di lakukan selama ini di jejaring sosial publik?
McKinsey Study melakukan survey dan mendapatkan bahwa perusahaan/organsasi yang menerapkan teknologi kolaborasi antara pihak internal dengan pihak external seperti costumer, suppler dan partner, mengalami peningkatan market share dan profit margin yang lebih tinggi dari yang sebelumnya.
Penerapan teknologi web 2.0, aspek-aspek sosial yang di tanamkan dalam suatu aplikasi di dalam jejaring sosial publik dan di implementasikan dalam lingkungan bisnis terbukti mampu dalam meningkatkan produktivitas, melibatkan secara lebih dalam, menghapus batasan-batasan geografi, hirarki, membuat lebih gesit para pemakainya dan pada gilirannya membantu suatu organisasi/ perusahaan meraih tujuannya bersama.
Kurang lebih, Sosial Bisnis adalah suatu organisasi/ perusahaan yang menggunakan tools dan teknik untuk lebih dapat melibatkan lebih banyak pemakai di dalam ekosistem nya (pegawai, pelanggan, suplier dan mitra kerja ) (engaging), lebih transparant dan lebih gesit (nimble)
Saat ini, Sosial Bisnis bukan lagi sekedar “nice to have”, tapi merupakan suatu keharusan untuk tetap dapat survive dalam iklim bisnis yang volatile. Menurut Forrester Research, pembelanjaan aplikasi perangkat lunak sosial bisnis akan tumbuh 61% sampai dengan tahun 2016.
Berikut pengalaman beberapa organisasi/ perusahaan yang sedang menerapkan sosial bisns di lingkungan kerja mereka:
CEMEX
Cemex adalah perusahaan produksi semen terbesar di seluruh dunia asal Mexico. Beroperasi di 50 negara, menggunakan platform sosial bisns mereka untuk menghubungkan lebih dari 170,000 pegawai nya di seluruh dunia.
SXC
SXC Health Solusion adalah perusahan solusi IT untuk healthcare. SXC adalah pelanggan Microsoft, menggunakan Exchange untuk email, namun untuk platform sosial bisnis, mereka menggunakan solusi dari IBM.




